Belajarlah tersenyum anakku…

18 04 2008

Belajarlah tersenyum anakku..
seperti ibumu yang selalu tersenyum saat menyambut terbangunnya engkau dari tidurmu..

Belajarlah tersenyum anakku ….
seperti bunga-bunga indah di halaman rumah kita saat ibumu membawamu berjalan-jalan disana

Belajarlah tersenyum anakku…
secerah mentari pagi ini yang (sekali lagi.. dan lagi) menghangatkan dunia yang berselimut dinginnya malam

Tersenyumlah anakku..
karena senyumu itu menghangatkan hati kami

Tersenyumlah anakku
karena senyummu itu menyejukkan mata kami

Tersenyumlah anakku..
karena senyummu itu membersihkan jiwa kami

Tersenyumlah anakku
karena senyummu itu adalah semangat kami
karena senyummu itu adalah darah kami
orang tuamu……

==============++++++++++++++++++++++++++++++======================





Terlambatkah aku….?? (sebuah coment untuk ‘Sabda Pagi’-nya perempuan di titik Nol)

16 04 2008

Saat membaca tulisan yang ini yang ada disini tidak tahan rasanya untuk tidak sedih…Gimana engga, dalam tulisan tersebut ada kutipan

De, dalam perjalanan hidup-ku ada dua hal yang aku takutkan:

1. Hal pertama yang aku takutkan adalah: Jatuhnya airmata emih (sebutan untuk IBU)Aku tak tak kuat jika aku melihat airmata emih jatuh di hadapanku. Dikarenakan bagiku airmata ibu itu bagaikan air sungai Gangga yang amat disucikan. Ya, itu aku menganggapnya seperti itu. Entahlah. Tapi itulah yang membuatku merasa damai bila airmata ibuku jatuh saat nanti dalam pernikahanku nanti. Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata ‘Ibu’, dan panggilan paling indah adalah ‘Emih’. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.

2. Hal kedua ……………………..

(..selanjutnya silakan baca sendiri untuk lengkapnya..)

Siapapun dia dalam tulisan tersebut, ntah knapa aku setuju sekali…..
Tapi terlepas dari setuju atau tidak… mungkin aku adalah orang paling bodoh yang pernah hidup didunia ini…. karena terlambat memaknai sesuatu….
Berbahagialah ia yang disisinya masih ada Ibu yang harus dijaga airmatanya agar tidak tertumpah karena ketidaksopanan yang harus diterimanya dari kita anaknya….

Karena bagiku semuanya sudah terlambat… Ibu yang aku cintai, aku hormati kini telah memenuhi Panggilan sang pemilik jiwa…

Namun yang tidak akan pernah terhapus adalah perihnya hati saat teringat beberapa kali (..beberapa kali yang aku ingat.. ntah sebenarnya berapa kali..) beliau tertunduk dan terdiam karena aku menolak permintaan beliau.. padahal kalo sekarang kupikir permintaan itu tidak berat..pun tidak melanggar aturan agama…

Ah Ibu… semoga disaat dulu engkau masih ada disisi kami  anak-anakmu.. engkau telah terlebih dahulu memberikan maaf untuk anakmu ini…… atas segala kesalahan yang kami lakukan …atas segala kesusahan yang kami berikan…. atas segala kesedihan yang kami persembahkan… atas segala kegalauan hati yang kami timbulkan…. padamu Ibu…. Dan semoga Sang Pemberi Ampunan mengampunkan engkau Ibu sebagai balasan atas kesabaranmu untuk memaafkan kami…..

Persaksikanlah Ya Allah…

dialah Ibu yang telah melaksanakan hampir seluruh titah-Mu dalam menjaga titipan-MU…. kami anak-anaknya …. maka Ampunkanlah Ia ya Allah….. karena engkaulah Maha Pemberi Ampunan…….

Dan sayangilah Ia Ya Allah…sebagaimana Ia menyayangi kami sepanjang waktu…. tanpa keluh, tanpa kesah

Dan berikanlah Ia tempat yang baik disisi-Mu… Ya Allah….  sebagaimana Ia selalu berusaha memberi kami tempat yang paling baik menurut kemampuannya……. dan tautkanlah selalu hatiku dengannya…… terimalah semua alunan doa yang aku persembahkan untuknya……. jadikanlah aku sebagai ladang kebaikan bagi dirinya…..

Ya Allah hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon……..





Pengalaman Pertama Menjadi Ayah (part 2)

31 03 2008

gedubarak.. gedubrak…. tiba-tiba suatu malam saya di bangunkan oleh istri saya.
saya yang waktu itu lulungu (bahasa sundanya masih ngantuk-ngantuk) kaget ga kira-kira.
“Ada apa sayang??”.. sontak saya bertanya… “ini anak kita nangisnya kejer” (bahasa istri saya untuk mengistilahkan tangisan anak yang kenceng bgt).

Saya saat itu sesaat melongo :O dan baru sadar… o iya ya, saya dah punya anak sekarang :) .
wuiiihh  ternyata susah juga ya berkomunikasi dengan anak bayi 
dengan bahasa yang terlalu susah untuk dimengerti apalagi oleh 
orang tua baru seperti saya :(

Rasanya pengen nangis denger bocah nangis ga berhenti-berhenti tanpa diketahui apa
penyebab tangisannya. Tapi ada rasa syukur yang menyelimuti dengan hangatnya saat berada
pada puncak kesadaran tentang siapa saya sekarang dan apa yang harus saya lakukan kedepan
juga kesadaran yang mendalam mengenai kasih sayang sang Pencipta yang telah memberikan
karunia yang tiada tara besarnya.

Tapi memang terkadang stress-nya pun ga ketulungan :( …. saat badan lelah tapi harus melek..
saat pikiran capek tapi harus tetap sadar…. Tapi yah itulah seninya menjadi ayah -mungkin ya-..

Ayo… siapa lagi yang sudah siap menjadi ayah..? Jangan ragu dan bimbang bersegeralah (hehe.. ceritanya lg mempropokasi) ………. :)

Salam





Pengalaman Pertama Menjadi Ayah

31 03 2008

Menjadi ayah? .. sebagian orang mungkin sedang menantikan untuk menjabat
posisi yang satu ini, sebagian mungkin menghindarkan dirinya dari menjadi seorang ayah.

Yang menantikan mungkin karena belum pernah merasakan bagaimana
rasanya menjadi ayah atau mungkin karena ketagihan menjadi ayah.. :)

Yang menghindarkan dirinya menjadi ayah bisa jadi karena dirinya sering mendengar
tentang bagaimana susahnya menjadi seorang ayah.. atau karena sudah tau dan kapok dengan
melihat apa yang dia lihat tentang menjadi ayah kemudian menimbulkan persepsi negatif
tentang menjadi ayah.

Menjadi ayah…? hemmm… seneng.. repot….. bersyukur…. stress… itulah diantara
pergumulan perasaan yang tiap hari melanda hati saat pertama kali dikaruniai
seorang baby.